Obat Lupus 2018

Posted in: by Beetwought September 12, 2018 | Tags:

Obat Lupus 2018, Dalam keadaan normal, sistem imunitas yang ada di dalam tubuh berfungsi untuk mempertahankan diri dan menghalau berbagai ancaman infeksi dan virus agar tidak masuk dengan mudah ke dalam tubuh. Namun pada penyakit lupus sistem imunitas justru berjumlah lebih banyak dan malah berbalik menyerang organ-organ yang ada di dalam tubuh sehingga terjadi penyakit menahun.

Sampai saat ini obat lupus masih berfokus untuk mengurangi dampak dari gejala-gejala yang terjadi karena penyakit ini, karena belum adanya obat khusus yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Obat-obatan yang diberikanpun hanya berfungsi untuk mengurangi peradangan yang terjadi, bukan untuk menyembuhkan penyakit lupus secara total.

Selain obat-obat yang umum dikenal seperti obat anti inflamasi semacam ibuprofen, diclofenac, priroxicam, steroid dan Hydroxychloroquine, ada juga beberapa obat lain yang biasanya diberikan pada para penderita penyakit lupus. Diantaranya adalah :

1.Obat imunosupresan

Obat ini berfungsi untuk menekan kinerja sistem kekebalan tubuh. Ada beberapa jenis imunosupresan yang biasanya diberikan dengan resep dokter, yaitu azathioprine, mycophenolate mofetil dan cyclophosphamide. Obat imunosupresan ini merupakan obat yang sangat keras sehingga hanya diberikan kepada penderita lupus dengan gejala yang sudah parah saja. Diketahui obat imunosupresan secara umum dapat menyebabkan beberapa efek samping sebagai berikut :

  • Kehilangan nafsu makan
  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Berjerawat
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan gusi
  • Kulit menjadi berwarna kemerahan
  • Pertumbuhan rambut yang berlebihan

Pada dasarnya, setiap jenis obat imunosupresan memiliki efek samping yang berbeda-beda. Mycophenolate dan cyclophosphamide memiliki efek samping yang sangat berbahaya bagi bayi karena akan menyebabkan bayi terlahir dengan cacat tubuh. Maka dari itu bagi wanita yang mengkonsumsi obat ini jika dia aktif secara seksual, disarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi yang sudah terjamin keampuhannya untuk menghindari kehamilan dengan resiko bayi terlahir cacat.

2.Rituximab

Dokter akan menganjurkan obat ini jika obat lain dinilai sudah tidak mempan lagi untuk para penderita lupus. Obat rituximab ini adalah obat jenis baru yang dikembangkan untuk menangani kanker darah tertentu atau limforma. Tetapi obat ini juga terbukti efektif untuk menangani penyakit autoimun, seperti lupus dan artritis reumatoid. Penggunaan obat ini adalah dengan memasukannya ke dalam cairan infus yang akan berlangsung selama beberapa jam. Selama proses ini berlangsung, dokter akan mengawasi secara ketat. Efek samping yang umum dirasakan pasien adalah pusing, mual, muntah dan gejala yang hampir mirip dengan gejala flu, seperti badang menggigil dan demam selama pengobatan berlangsung.

  1. Kortikosteroid

Kortikosteroid merupakan jenis obat yang dapat mengurangi inflamasi secara cepat dan efektif. Jenis obat ini biasanya akan diberikan oleh dokter ketika gejala yang dialami oleh penderita lupus tergolong parah. Ketika gejala dirasa cukup parah, dokter akan memberikan kortikosteroid dalam dosis yang tinggi. Kemudian dosis akan diturunkan seiring dengan menurunnya gejala yang dialami oleh pasien.

Beberapa efek samping bisa ditimbulkan melalui konsumsi jangka panjang obat-obatan ini, seperti penipisan tulang, penipisan kulit, peningkatan berat badan, dan juga tekanan darah tinggi. Namun hingga saat ini kortikosteroid merupakan jenis obat yang relatif aman untuk digunakan. Untuk meminimalisir efek samping biasanya dokter akan melakukan pengaturan pada pemberian obat.

  1. Obat Antiinflamasi Non Steroid

Nyeri di area persendian merupakan gejala paing umum yang sering dialami oleh penderita lupus. Untuk mengatasi masalah tersebut, penderita lupus akan disarankan untuk mengkonsumsi obat antiinflamasi non steroid. Beberapa jenis obat antiinflamasi non steroid seperti ibuprofen, naproxen, diclofenac, dan piroxecam merupakan beberapa jenis obat antiinflamasi yang dipercaya mampu meringankan gejala nyeri pada persendian.

Meskipun beberapa jenis obat tersebut dijual bebas di pasaran, namun sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat tersebut apalagi jika Anda memiliki riwayat gangguan ginjal, lambung, dan juga hati. Jenis obat-obatan tersebut juga tidak baik untuk penderita penyakit asma. Sayangnya, mengkonsumsi obat antiinflamasi non steroid bisa menimbulkan kerusakan dinding lambung. Karena itulah dokter bisa menganjurkan pilihan lain untuk menghindari dampak negatif tersebut.