psikologi-perkembangan
Insight

Cakupan Buku Psikologi Perkembangan

Buku psikologi perkembangan adalah ilmu psikologi yang mengulas permasalahan perkembangna manusia. Tentu saja ilmu ini hadir untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari perkembangan itu sendiri. Secara tidak langsung, buku psikologi perkembangan juga mempelajari tingkah laku orang dari tahap awal hingga tahap akhir.

Dikatakan tahap awal adalah tahap di dalam kandungan hingga manusia wafat. Menguasai dan mempelaji buku psikologi perkembangan tidak lain dan tidak bukan untuk membentuk mental, kematangan berfikir dan sikap. Pada prinsipnya, keinginan untuk memberikan pendidikan agar terdidik.

Berbicara tentang buku psikologi perkembangan, ada beberapa tahapan hidup seseorang. Apa saja? langsung saja, kita simak ulasannya berikut ini.

Perkembangan Psikologi Menurut Erikson.

Menurut Erikson, salah satu pakar psikologi perkembangan, banyak dikutip di sebagian besar buku psikologi perkembangan bahwa masa perkembangan awal adalah masa konsepsi janin terbentuk. Setidaknya ada empat perkembangan menurut erikson, apa saja? Simak ulasan berikut.

1. Trust vs Mistrust

Buku psikologi perkembangan menurut erikson yang pertama adalah fase trust vs mistrust. Fase dimana terjadi konsepsi, dari usia 0 hari sampai usia bayi lahir berusia 1 tahun. Fase inilah yang di sebut dengan fase trust vs mistrust. Di tahap awal, memang setiap hari mengalami perubahan perkembangan. Dari zigot menjadi janin. Kemudian, dari janin lahir bayi, dari bayi berkembang dan terus berkembang sampai anak bisa merangkak dan berlajar berjalan.

Semua proses tersebut mengalami perkembangan. Dimana perkembangan tersebut semakin mengarah dan membentuk kepercayaan diri anak. Bentuk kepercayaan diri pada anak usia ini bukan berarti memiliki rasa kepercayaan diri yang kita miliki. Tetapi bentuk kepercayaan diri maksud dalam hal ini adalah, kemampuan panca indera dan syarat otak dan motorik berjalan dengan baik.

2. Fase Autonomy vs Shame

Fase Autonomy melawan Shame adalah fase anak di usia dua tahun sampai tiga tahun. Di fase inilah balita akan masuk ketahap masa pemberontakan. Atau orang awam lebih sering menyebutkan dengan kenakalan balita. Balita sedang aktif dan sedang nakal-nakalnya. Sebenarnya bukan nakal, tetapi kenakalan tersebut salah satu bentuk perkembangan yang disebutkan dalam buku psikologi perkembangan.

Di tahap ini, perkembangan motorik dan perkembangan mental anak semakin baik. Sedangkan untuk perkembangan kognitif anak, masih terus perjalanan proses penyempurnaan, namun di tahun 2-3 tahun kognitif anak belumlah sempurna. karena di tahap usia ini anak sedang dalam tahap perkembangan motorik dan mental, sebagai orangtua turut wajib memaksimalkan perkembangan ini.

3. Tahap Insiative vs Guilt

Tahap insiative vs Guilt adalah tahap dimana anak memasuki tahun ke empat sampai tahun ke lima. Di tahap inilah anak sudah memiliki kemampuan berbicara yang baik. Anak sudah belajar kosa kata dan sedang mengeksplorasi kemampuan berbicara. Anak pun juga bisa memiliki pandangan dan ide sederhana. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan kognitif anak hampir sempurna.

Buku psikologi perkembangan ini juga menjelaskan bahwa, anak usia 4-5 tahun sudah mengenali gender mereka dengan baik. Mereka sudah tahu gender mereka sebagai laki-laki atau perempuan. Mereka juga sudah mengerti ada perbedaan anatomi tubuh antara laki-laki dan perempuan. Inilah yang nantinya akan mempengaruhi mereka dalam bersikap dengan lawan jenis.

4. Tahap Industry vs Inferiority

Tahap ini adalah tahap dimana anak memasuki usia 6 sampai 11 tahun. Anak sudah bisa berfikir bahkan bisa mengerjakan tugas atau soal sekolah. Anak juga sudah memiliki motivasi terhadap hal-hal yang mereka senangi. Misalnya, motivasi untuk belajar, motivasi mengikuti lomba dan menang termasuk juga memiliki motivasi untuk memelihara hewan peliharaan.

Sayangnya, di tahap inilah, anak belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Mereka cenderung mengikuti keinginan, tanpa memperhitungkan emosi. Bahkan, hal dampak negatif, bentuk efek samping dari keputusan yang mereka buat pun tidak menjadi perhatian. Mereka memang belum sampai tahap memikirkan dampak, sehingga sebagai orangtua, terus mengawasi anak yang sedang di tahap ini.

Konsep Psikologi Perkembangan

Nah, buat kamu yang masih mencari tahu atau binggung tentang ilmu yang diulas di dalam buku psikologi perkembangan, secara sederhana adalah perubahan yang tersistematis, berkesinambungan dan profresif yang dirasakan oleh seseorang. Dengan kata lain, sejak manusia dilahirkan, manusia akan mengalami perkembangan yang sifatnya dinamis.

Semakin dewasa, semakin menunjukan kematangan berfikir, bersikap dan lebih dewasa. Jadi tidak sebatas perubahan perkembangan secara fisik saja. Organ, sistem, sel di bagian dalam pun juga bergerak dinamis. Dimana, semuanya saling mempengaruhi satu dengan yang lain.

Fase Perkembangan Individu

Buku psikologi perkembangan menekankan bahwa setiap individu, sejak lahir sudah bergantung dengan individu yang lain. Ini bukti bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Agar tetap bisa hidup sendiri dan mandiri, maka manusia pun dituntut untuk terus belajar. Menariknya, manusia secara naluriah juga memiliki jiwa untuk terus belajar tanpa kita sadari.

Bentuk konkrit jika manusia sejak lahir belajar ketika anak pertamakali lahir, ia belajar bagaimana minum air susu ibu. Tanpa di ajarkan orang tua secara teoritis bagaimana minum, bayi dengan sendiri bayi sudah bisa menelan susu. Berbicara tentang proses belajar, ada beberapa faktor psikologis belajar yang dipengaruhi beberapa poin berikut.

a. Motivasi

Bayi pertamakali lahir, akan mengalami tekanan dan atmosfer yang berbeda. Ketika keluar dari rahim, bayi akan merasakan rasa lapar. Dorongan rasa lapar, meskipun belum bisa diungkapkan oleh bayi, bayi termotivasi untuk meminum susu. Begitupun ketika individu menganjak dewasa. Mereka juga akan terus belajar karena kebutuhan dan tentu saja kebutuhan dan tuntutan itulah yang menjadi motivasi awal.

b. Konsentrasi

Selama proses belajar, butuh konsentrasi. Dimana individu memusatkan kekuatan dan perhatian terhadap apa yang sedang dipelajarinya. Dari konsentrasi inilah yang nantinya akan membantu dalam memusatkan perhatian yang akan menemukan penemuan, pelajaran yang dapat mempengaruhi sikap, perilaku, motivasi dan pemikiran.

Ternyata memiliki daya konsentrasi ini pun tidaklah mudah dialami. Butuh kelapangan, kesediaan hati agar bisa konsentrasi pada satu hal. Padahal konsentrasi salah satu modal utama, seseorang bisa menembus keterbatasan dan sekat ketidakmungkinan. Hanya anak-anak tertentu saja yang bisa melakukan konsentrasi, terkhusus mereka yang memiiki motivasi berprestasi, yang juga diulas di buku psikologi perkembangan di bab lainya.

c. Reaksi

Setelah dua hal tersebut saling terkoneksi, dan terendapkan. Maka, akan menimbulkan reaksi. Bentuk reaksi itu sendiri berbeda-beda dari orang satu dengan yang lain. Jika individu yang memiliki pengalaman dan wawasan lebih banyak, tentu saja dalam bereaksi akan lebih kalem, dewasa dan elegan. Sebaliknya, jika keterbatasan dalam mendapatkan ilmu baru, maka akan cenderung disikapi dengan emosi, rasa curiga dan banyak reaksi yang lainnya, yang sifatnya tidak terduga. Dimana reaksi tersebut bisa saja merugikan diri sendiri dan lingkungan lain.

Itulah cakupan buku psikologi perkembangan. Dari pemaparan di atas hanya sebagian kecil saja. Ada banyak sekali ulasan tentang dunia psikologi perkembangan. Buku psikologi perkembangan yang untuk buku ajar, memang lebih tebal dan lebih menyeluruh pembahasannya.

Adapun tips bagi kamu yang sekarang sedang mencari buku psikologi perkembangan. Carilah buku yang ditulis langsung oleh pakar psikologi perkembangan. Kenapa? Karena buku ini akan mengulas banyak pembahasan secara detail dan menyeluruh. Sumber yang dijadikan acuan pun juga dari hasil penelitian sebelumnya, dari berbagai belahan dunia.

Memang buku psikologi yang menarik adalah buku yang ditulis dari ahli psikolog dari luar. Tetapi bukan karena penulisnya dari luar. Tetapi lebih pada mengetahui penemuan-penemuan baru dan ilmu terbaru yang terjadi luar sana. Yang kemudian dapat kamu gunakan sebagai pembanding dengan kasus yang terjadi di Indonesia.

Nah, bagi kamu yang kesulitan mencari buku psikologi perkembangan. Kamu bisa dapatkan di sini.

Kontributor : Irukawa Elisa.